Institut Pertanian Bogor (IPB)

Mutagenesis Mikroalga untuk Biofuel

Mikroalga adalah mahluk hidup berukuran mikroskopis yang dapat tumbuh baik di air tawar maupun air laut. Organisme ini merupakan tumbuhan paling primitif yang lebih dikenal dengan sebutan fitoplankton. Mikroalga laut merupakan materi organik dalam laut sehingga dapat dijadikan salah satu komponen pembentukan minyak bumi di dasar laut. Mikroalga jenis Dunaliella sp. memiliki potensi yang besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan pakan maupun pangan sehingga dapat dijadikan sebagai komoditi hasil perairan alternatif.

Dunaliella sp. merupakan salah satu mikroalga yang cukup banyak diteliti karena kandungan karotenoid dan gliserolnya yang tinggi. Kandungan kimiawi seperti protein, asam amino, vitamin, polisakarida dan karbohidrat yang diekstrak dari mikroalga telah digunakan untuk bahan makanan. Selain untuk pakan maupun pangan, mikroalga dapat dimanfaatkan sebagai penghasil bahan bakar alternatif atau biofuel.

Kendala yang dihadapi adalah masih rendahnya produksi biomassa hasil panen mikroalga. Untuk meningkatkan produksi tersebut maka dibutuhkan teknik yang dapat diterapkan pada mikroalga. Salah satu teknik tersebut yaitu mutagenesis dengan menggunakan Etil Metan Sulfonat (EMS). EMS merupakan senyawa mutagen yang paling sering digunakan dalam mutagenesis kimia karena memiliki efektivitas mutasi dan sifat mutageniknya bisa hilang setelah mengalami reaksi hidrolisis dengan air.

Salah seorang dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelatuan (FPIK), Institut Pertanian Bogor (IPB) yang juga peneliti senior di Surfactant and Bioenergy Research Centre  (SBRC) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB, Dr Mujizat Kawaroe melakukan penelitian untuk menganalisis pengaruh pemberian EMS terhadap laju pertumbuhan, ukuran sel, kandungan asam lemak dan aktivitas antioksidan mikroalga spesies Dunaliella sp. Dr. Mujizat Kawaroe menyatakan, “Metode yang digunakan yaitu dengan cara menambahkan EMS konsentrasi 0.1 M dan 0.5 M pada tahap awal kultivasi mikroalga.

Sedangkan analisis yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari penambahan EMS yaitu dengan pengamatan ukuran sel, kepadatan sel, karakteristik proksimat, karakteristik asam lemak dan aktivitas antioksidan mikroalga spesies Dunaliella sp”.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penambahan konsentrasi EMS 0.1 M pada media kultivasi maka akan meningkatkan ukuran sel tiga kali lebih besar dari ukuran sel kontrol dan memiliki persentase asam lemak yang lebih tinggi. Tingginya kandungan asam lemak jenuh memiliki nilai dan stabilitas oksidatif yang baik untuk biodiesel. Perhitungan asam lemak pada biomassa alga merupakan salah satu prosedur untuk mengindikasi lemak yang cocok untuk dikonversi menjadi biodiesel. Pemilihan fase kandungan minyak yang tinggi dan metode pemanenan yang efektif banyak dibutuhkan untuk memproduksi bioediesel dari mikroalga. “Dalam penelitian ini juga terlihat perlakuan yang ditambahkan EMS memiliki laju pertumbuhan dan aktivitas antioksidan yang rendah dibandingkan dengan perlakuan kontrol,” tutup Dr. Mujizat Kawaroe. (RF)

Pendidikan

Related Articles

0 Comment

Leave a Reply